Ordinary Life for Extraordinary Living
3/04/2009
Back To The Basic
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, ia memiliki sebuah kecenderungan untuk terus berkembang. Itulah sebabnya muncul peradaban, yang merupakan kumpulan dari perkembangan kehidupan manusia. Awalnya manusia hidup nomaden dan berburu binatang, kemudian setelah manusia mengenal pertanian, ia mulai hidup menetap. Setelah itu muncul kota-kota. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Namun, di balik kecenderungannya untuk terus berkembang, manusia sering melupakan apa yang telah didapatkan sebelumnya. Jika ada sebuah teknologi baru maka apa yang lama biasanya dibuang. Itulah yang menyebabkan, saat terjadi sebuah masalah, manusia cenderung untuk mencari sebuah resolusi yang mantap, tok-cer, terpercaya, mak-nyus, yang ampuh secara langsung untuk mengatasi masalah tersebut.
Saat ia bertanya kepada pemimpinnya, atau orang yang terpandang, mungkin ia akan diberitahu bahwa solusi dari masalah tersebut sebenarnya adalah sebuah hal yang mudah, simple dan sederhana. Namun, karena kecenderungan manusia tadi, ia menjadi tidak percaya dan menganggap solusi tersebut sebagai sebuah angin lalu.

Akhirnya, ia mencari solusi-solusi yang lain. Muncullah ponari sebagai sebuah jawaban yang begitu dipuja bahkan oleh puluhan ribu orang tiap harinya. Bahkan kaum intelektual pun mencarinya. Ini adalah kutub ekstrim yang satu. Kutub ekstrim yang lain adalah, ia akan mencari suatu cara atau alternatif lain yang kelihatannya sangat canggih atau begitu rumit, yang untuk mengertinya pun mungkin tidak mampu untuk dilakukan.
Padahal, back to the basic adalah jawaban yang sangat ampuh, meskipun itu adalah sebuah hal yang basic. Sakit contohnya. Kita seringkali mencari obat untuk menjadi solusi, padahal pola hidup yang teratur dan olah raga yang cukup adalah sebuah solusi yang sangat basic, namun ampuh. Begitu juga dalam hal kedisiplinan hidup. Kita akan mencari bagaimana cara yang canggih untuk menjadi solusinya, padahal kedisiplinan hidup adalah masalah keputusan tiap waktu, yaitu bagaimana kita bisa mengatakan tidak pada tiap keinginan kita yang tidak pada tempatnya.
Pengalaman pribadiku pun demikian. Akhir-akhir ini aku cukup bermasalah dengan jati diri dan tujuan hidup yang menyebabkan aku jadi kurang bersemangat dalam menghadapi hidup dan seringkali ingin untuk bermain dan mencari hiburan terus menerus. Jiwa yang kekanak-kanakan. Ternyata jawabannya pun cukup mudah. Sebuah jawaban yang tidak ingin aku tulis di sini (kalau mau tahu, Private Message aja ya!!)
Itulah, mungkin "Back to the Basic" bisa jadi solusi yang tepat dan pas bagi kita yang memiliki masalah. Selamat mencoba!!!
(Gambar dari photoshopessentials.com)
Label: Experiences, Life Paradigm
1/20/2009
Hilangnya Sakit Kepala
Sekelumit kisah diriku yang aku sendiri tidak kusadari telah berakhir. Sekarang aku tahu kenapa tiap bangun tidur kepalaku terasa begitu pusing. Aku pikir aku kurang tidur, karena memang ada banyak proyek yang harus aku selesaikan. Namun ternyata tidak. Beginilah kisahnya.
Ternyata penyebabnya adalah bantal kesayanganku yang sudah kempes alias tidak empuk lagi. Silly, isn't it? Tapi ini beneran, karena sejak 2 hari lalu, aku resmi menggunakan bantal baru, dan, voila, sakit kepala pun hilang. Tidak ada lagi sakit kepala setelah bangun tidur.
Yang tersisa adalah penyesalan, karena aku tidak mengetahuinya sejak dulu, sehingga, pertama, tentu saja aku merasa dirugikan karena tiap hari harus bangun dengan kesakitan. Kedua, tentu saja rugi waktu, karena analisis yang salah, membuat aku lebih banyak tidur, sehingga banyak sekali waktuku terbuang.
Sadarnya diriku disebabkan oleh 2 hipotesis yang ternyata benar. Pertama, setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa rata-rata tidurku adalah lebih dari 9 jam. Tidak mungkin kurang, bukan? Kedua, makin lama, yang sakit bukan lagi kepala, tapi leher. Nah, mengertilah aku sekarang.
Ternyata benar. Meskipun 2 hari ini aku tidak bisa menikmati tidur dengan bantal kesayanganku, sekaligus bantal yang ada sekarang terasa sangat tinggi, tapi nggak apa-apa. Aku sudah bisa tidur dengan lebih enak. Dari peristiwa ini, ada 1 hal yang aku sadari. Yaitu tentang betapa rapuhnya manusia.
Aku ingat sekali bahwa sejak dari kecil, aku diajar untuk berdoa sebelum tidur untuk minta tidur yang nyenyak, dilindungi oleh Tuhan dan boleh bangun dengan tubuh yang segar dan sehat. Lambat laun dengan bertambahnya usia, aku jarang mendoakan hal ini. Aku pikir, "Toh, Tuhan pasti tahu aku membutuhkannnya". Ternyata hal ini penting sekali. Apalagi setelah teringat teori psikologi tentang aktifitas otak manusia.
Beginilah teori tersebut. Otak manusia beraktifitas dengan memberikan sinyal-sinyal pada jaringan syaraf dengan satuan kecepatan x (baca: sekian) juta perintah dalam 1 detik yang diberi satuan CPS (cycle per second). Pada kondisi sadar, aktifitas otak memiliki kecepatan 24 CPS (dan pada kondisi stress sekitar 48 CPM ke atas) yang disebut kondisi alpha. Namun saat manusia tidak sadar, kecepatan otak berada pada kondisi theta, gamma dan delta, dimana theta memiliki kecepatan 12-24 CPM, gamma 6-12 CPM dan theta antara 1-6 CPM (kalau sudah 0 artinya meninggal, hehehe). Teorinya masih panjang sih, tapi aku tulis yang berhubungan dengan maksudku saja. Ternyata, saat manusia tidur, kecepatan otak makin menurun hingga kondisi delta, dimana kondisi ini disebut sebagai kondisi deep sleep. Dan, yang paling penting, ternyata pada kondisi ini, semua sel-sel tubuh manusia yang rusak ternyata diperbaiki dan kondisi ini cuma terjadi maksimal 15 menit dari keseluruhan tidur malam kita.
Nah, kondisi inilah yang benar-benar patut kita syukuri. Aku sadar, bahwa sudah lama aku tidak pernah mengalami kondisi ini, karena aku tidak pernah bisa tidur kalau ada suara sedikit saja (dan tentu saja terbangun dengan keadaan sakit kepala, hehehe). Selain itu, untuk benar-benar berada pada kondisi tidak sadar, aku paling tidak membutuhkan waktu 1-2 jam, karena tiap kali aku tidur, selalu banyak sekali hal yang aku pikirkan, mulai merenung, mengingat-ingat dan merefleksi. Bayangkan, betapa sulitnya tidur.
Dulunya aku senang merefleksi, tapi sekarang rasanya enggak deh. Lebih cepat tidur lebih baik. Huff. Sekarang aku tidak pernah bolong untuk minta tidur yang nyenyak dan bangun dalam keadaan segar kepada Tuhan, karena aku tahu maksudnya itu bagaimana. Bayangkan kalau sel-sel tubuh kita mati dan tidak ter-regenerasi. Apa yang terjadi?
(Gambar dari sciencedaily.com)
Label: Experiences, Life Style
1/12/2009
Here I Am
Pelajaranku beberapa waktu terakhir ini menuntun aku untuk menyadari betapa lemahnya manusia itu. Seharusnya manusia adalah makhluk yang begitu sempurna, dan telah diberikan karunia masing-masing oleh Tuhan. Namun, karena banyak hal, ia bisa menjadi seorang yang begitu tidak berdaya. Salah satunya adalah aku.
Karena didikan dari lingkungan, terutama keluarga, telah membuat aku menjadi tipe orang yang sangat lemah, bahkan tidak dapat mengambil sesuatu yang sudah ada di depanku. Sebagai contoh, seorang bayi, saat ia sudah lapar, ia akan meraih botol susu yang ada di depannya, karena ia tahu bahwa itu adalah makanannya. Tapi, bagi aku, dalam beberapa kasus, aku tidak dapat melakukannya.
Contohnya, dengan berbagai macam kemampuan yang aku miliki (baca aja posting2 yang lalu, hehe), aku merasa bahwa hidupku bisa dipakai Tuhan untuk memberkati orang lain dengan begitu banyak. Bukan aku tidak mau mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut, tapi kadang aku tidak punya kemauan yang begitu kuat untuk melakukannya.
Susah juga ya? Ada banyak hal sebenarnya, contoh paling gampang adalah dalam hal berorganisasi. Tidak jarang aku mendapati atau mengerti ada sebuah keadaan yang salah dalam organisasi tersebut. Namun, dengan segala rasio dan penalaranku, selalu membuat aku berkata, "Ah, nggak usah, jangan-jangan aku nggak dihargai". Pikiran-pikiran tersebut begitu sering menghambat aku untuk mencapai tujuanku.
Sebuah contoh lagi adalah, misalnya ada sebuah acara, dan sebenarnya aku bisa menjadi bagian dari tim acara tersebut. Ada banyak planning yang bisa aku usulkan, namun aku tidak menawarkan diri, dengan alasan yang klise tentunya.
Untunglah aku memiliki lingkungan yang mensupport hidupku. Kemarin, dengan perjumpaan dengan salah satu mentorku (thank God for himself), aku menyadari bahwa sebenarnya seringkali untuk mengubah suatu keadaan yang salah hanya butuh langkah-langkah yang cenderung sederhana. Tapi manusia seringkali menginginkan sebuah langkah yang "keren" yang jika dilakukan akan mengubah seluruh aspek kehidupannya. Padahal langkah seperti itu tidak ada. Yang ada ialah, kita harus setia untuk mengubah hal-hal dalam kehidupan kita yang salah.
Dan dalam kasusku, mentorku berkata, "Kamu cukup mengatakan iya!", artinya, dalam setiap hal yang Tuhan ingin untuk aku lakukan, cukup dengan mengatakan "Iya" pada Tuhan, dan melakukannya. Kita tidak boleh melihat pada hasil, namun punya mental, "Setidaknya aku sudah menang terhadap diriku sendiri". Dan memang benar, itu yang aku butuhkan, sederhana bukan?
Label: Experiences, Life Paradigm
12/23/2008
Manusia dan Hubungan
Kita hidup di dunia ini benar-benar saling bergantung satu dengan yang lain. Manusia adalah homo homini socius. Artinya, manusia membutuhkan yang lain untuk dapat hidup. Ada beberapa orang yang kemudian ingin membuktikan diri bahwa prinsip homini socius ini salah. Aku tidak pernah ketemu sih dengan orang seperti ini, tapi dengar-dengar, ada sebuah penelitian tentang bayi yang benar-benar diisolasi dari dunia luar. Terbukti, bahwa bayi ini menjadi manusia yang memiliki kemampuan yang agak terbelakang.
Manusia butuh orang lain untuk belajar. Melalui orang tuanya mereka belajar berjalan, berbicara, etika dan tata krama, dan yang lain. Melalui lingkungan mereka belajar mengenai nilai-nilai yang ada untuk bersikap. Banyak hal yang lain.
Presiden membutuhkan rakyatnya untuk ada. Tidak ada pemerintahan yang sah tanpa rakyat. Begitu pula rakyat membutuhkan pemerintah untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Majikan membutuhkan pembantu-pembantunya untuk mengurus segala keperluan di sekitarnya. Pembantu pun membutuhkan majikan untuk hidupnya. Manusia membutuhkan alam untuk hidup dan alam membutuhkan manusia untuk terus berkembang.
Namun, sifat manusia yang serakah, homo homini lupus, membuat segala yang ada di sekitarnya menjadi rusak. Manusia merusak alam untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Padahal kehidupan mereka sangat tergantung oleh alam. Manusia merusak sesamanya untuk keuntungannya sendiri. Sebuah pembelajaran pada manusia sering tertuang pada buku, artikel maupun film, seperti yang baru-baru ini muncul, "The Day When The Earth Stood Still", "Transformers" dan sebagainya.
Pada film-film semacam itu, seringkali disebutkan bahwa manusia adalah peradaban yang "sedang berkembang". Biasanya sesuatu yang sedang berkembang akan memakan segala sesuatu yang ada di sekitarnya untuk 'membiayai' perkembangannya.
Di akhir setiap film itu, pasti ada sebuah pembelajaran berharga akan pentingnya menjaga relasi dengan alam. Namun, nyatanya tidak hanya dengan alam yang harus dijaga, tapi semua hal. Itulah pentingnya etika. Bagi seorang mahasiswa, seringkali pelajaran etika menjadi sebuah pelajaran yang membosankan dan tidak diperhitungkan. Mungkin, itulah penyebab kenapa banyak sekali manusia yang begitu tidak menghormati hak-hak orang lain dan sekitarnya. Sebuah pelajaran berharga akan datang juga saat tiba-tiba alam 'marah' dan menyebabkan berbagai bencana. Akhirnya penyesalan -yang selalu datang terlambat- pun tiba.
Manusia dan hubungan adalah seperti air dalam gelas. Tanpa hubungan, manusia akan hancur. Oleh karena itu, kita harus benar-benar menghargai setiap hubungan yang kita jalani. Hubungan dengan sesama, manusia, apalagi dengan Tuhan. Manusia yang berhasil adalah manusia yang menghargai hubungan sebagai anugerah yang dia miliki.
Bersikap sopan, kata-kata yang tidak menyakiti hati, hal-hal ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak susah untuk dilakukan, tapi seringkali ego manusia membuat hal ini susah untuk dilakukan. Padahal dengan menolak untuk melakukan hal ini, tidak ada untungnya bagi kita. Semoga hal ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua.
(Inspired by 'good alien movies' mentioned above)
(Image from www.shockya.com)
Label: Life Style